Gagal Ginjal Kronik

Posted: Juni 29, 2010 in Uncategorized

Konsep Dasar Gagal Ginjal Kronik
1. Pengertian
Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan serta elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah). (Smeltzer, dkk, 2001)
Gagal ginjal kronik adalah destruksi struktur ginjal yang progresif dan terus menerus. Gagal ginjal kronik dapat timbul dari hampir semua penyakit. (Corwin, 2001)
Gagal ginjal kronik (GGK) adalah suatu sindrom klinis yang disebabkan penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, berlangsung progresif dan cukup lanjut ( Suyono, 2001).
2. Etiologi
Menurut Guyton (1997) penyebab GGK adalah :
a. Infeksi misalnya pielonefritis kronik, glomerulonefritis
b. Penyakit vaskuler hipertensif misalnya nefrosklerosis benigna, nefrosklerosis maligna, stenosis arteria renalis
c. Gangguan jaringan penyambung misalnya lupus eritematosus sistemik, poliarteritis nodosa, sklerosis sistemik progresif
d. Gangguan kongenital dan herediter misalnya penyakit ginjal polikistik, asidosis tubulus ginjal
e. Penyakit metabolik misalnya DM, gout, hiperparatiroidisme, amiloidosis
f. Nefropati toksik misalnya penyalahgunaan analgesik, nefropati timbal
g. Nefropati obstruktif misalnya saluran kemih bagian atas: kalkuli neoplasma, fibrosis netroperitoneal. Saluran kemih bagian bawah: hipertropi prostat, striktur uretra, abnormali kongenital pada leher kandung kemih dan uretra.
h. Batu saluran kencing yang menyebabkan hidrolityasis
3. Patofisiologi
Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk glomerulus dan tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak (hipotesa nefron utuh). Nefron- nefron yang utuh hipertrofi dan memproduksi volume filtrasi yang meningkat disertai reabsorpsi walaupun dalam keadaan penurunan GFR/ daya saring. Metode adaptif ini memungkinkan ginjal untuk berfungsi sampai ¾ dari nefron- nefron rusak. Beban bahan yang harus dilarut menjadi lebih besar daripada yang bisa direabsorpsi berakibat diuresis osmotik disertai poliuri dan haus. Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak oliguri timbul disertai retensi produk sisa. Titik dimana timbulnya gejala- gejala pada pasien menjadi lebih jelas dan muncul gejala- gejala khas kegagalan ginjal bila kira- kira fungsi ginjal telah hilang 80%- 90%. Pada tingkat ini fungsi renal yang demikian nilai kreatinin clearance turun sampai 15 mL/ menit atau lebih rendah itu. ( Long, 1996). Fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein (yang normalnya diekskresikan ke dalam urin) tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah maka gejala akan semakin berat. Banyak gejala uremia membaik setelah dialisis. (Smeltzer, dkk, 2001).

4. Tanda Dan Gejala
Tanda dan gejala gagal ginjal kronik adalah (Suyono, 200l):
a. Gangguan pada sistem gastrointestinal.
1) Anoreksia, mual, dan muntah yang berhubungan dengan gangguan metabolisme protein dalam usus dan terbentuknya zat- zat toksik.
2) Fetor uremik: disebabkan ureum yang berlebihan pada air liur yang diubah menjadi amonia oleh bakteri sehingga nafas berbau amonia.
3) Cegukan, belum diketahui penyebabnya.
b. Gangguan sistem hematologi dan kulit.
1) Anemia, karena berkurangnya produksi eritropoetin.
2) Kulit pucat karena anemia dan kekuningan karena penimbunan urokrom.
3) Gatal- gatal akibat toksin uremik.
4) Trombositopenia (penurunan kadar trombosit dalam darah).
5) Gangguan fungsi kulit (Fagositosis dan kemotaksis berkurang).
c. Sistem syaraf dan otak.
1) Miopati, kelelahan dan hipertropi otot.
2) Ensepalopati metabolik: Lemah, Tidak bisa tidur, gangguan konsentrasi.
d. Sistem kardiovaskuler.
1) Hipertensi.
2) Nyeri dada, sesak nafas.
3) Gangguan irama jantung akibat sklerosis dini.
4) Edema.
e. Sistem endokrin.
1) Gangguan seksual: libido, fertilitas dan penurunan seksual pada laki-laki, pada wanita muncul gangguan menstruasi.
2) Gangguan metabolisme glukosa, retensi insulin dan gangguan sekresi insulin.
f. Gangguan pada sistem lain.
1) Tulang: osteodistrofi renal.
2) Asidosis metabolik akibat penimbunan asam organik.
5. Klasifikasi
Stadium gagal ginjal kronik didasarkan pada tingkat penurunan GFR (Crowin, 2000) meliputi:
a. Penurunan cadangan ginjal: terjadi apabila GFR turun 50% dari normal.
b. Insufisiensi ginjal: terjadi apabila GFR turun menjadi 20- 50% dari normal. Nefron- nefron yang tersisa sangat rentan mengalami kerusakan sendiri karena beratnya beban yang diterima.
c. Gagal ginjal: terjadi apabila GFR kurang dari 20% dari normal, semakin banyak nefron yang mati.
d. Penyakit ginjal stadium akhir: terjadi apabila GFR menjadi 5- 0% dari normal dan nefron yang tersisa sangat sedikit.
Pada tahun 2002, Kidney Disease Outcome Quality Initiative (K/DOQI) merekomendasikan pembagian CKD berdasarkan stadium dari tingkat penurunan LFG :
a) Stadium 1: kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminaria persisten dan LFG yang masih normal ( > 90 mL/ menit/ 1,73 m2)
b) Stadium 2: Kelainan ginjal dengan albuminaria persisten dan LFG antara 60-89 mL/ menit/ 1,73 m2)
c) Stadium 3: kelainan ginjal dengan LFG antara 30-59 mL/ menit/ 1,73m2)
d) Stadium 4: kelainan ginjal dengan LFG antara 15-29mL/ menit/ 1,73m2
e) Stadium5: kelainan ginjal dengan LFG 200 mg/ dl), hiperkalemia ( >7 mEq/ l), asidosis.
j. Operasi
1) Pengambilan batu
2) Transplantasi ginjal

C. Asuhan Keperawatan Teoritis Gagal Ginjal Kronik
1. Pengkajian
Menurut Doenges (2000), pengkajian keperawatan pada klien GGK meliputi :
a. Riwayat keperawatan.
1) Usia.
2) Jenis kelamin.
3) Berat badan, Tinggi badan.
4) Riwayat penyakit keluarga
5) Riwayat gagal ginjal kronik
b. Pemeriksaan fisik.
1) Aktifitas :
Subjektif: Keletihan, kelemahan, malaise.
Objektif: Kelemahan otot, kehilangan tonus
2) Sirkulasi :
Subjektif : – Hipotensi/ hipertensi (termasuk hipertensi maligna)
– Eklamsi/ hipertensi akibat kehamilan
– Disritmia jantung
Objektif: Nadi lemah/ halus, hipertensi: ortostatik (hipovolemia), nadi kuat hipervolemia, edema jaringan umum, termasuk area priorbital, mata kaki, sacrum, pucat, kecenderungan perdarahan.
3) Eliminasi
Subjektif: Perubahan pola berkemih biasanya peningkatan frekuensi seperti poliuria (kegagalan dini) atau penurunan frekwensi/ oliguria (fase akhir), disuria, ragu- ragu, dorongan, dan retensi (inflamasi/ obstruksi, infeksi).
Objektif : – Abdomen kembung, diare, konstipasi
– Riwayat batu/ kalkuli.

4) Makanan/ cairan
Subjektif: – Peningkatan berat badan (edema), penurunan berat badan (dehidrasi)
– Mual, muntah, anoreksia, nyeri uluhati
– Penggunaan diuretik
Objektif: Perubahan turgor kulit/ kelembaban edema (umum, bagian bawah)
5) Neurosensori
Subjektif: Sakit kepala, penglihatan kabur
Objektif: Gangguan status mental, contoh penurunan lapang pandang, ketidakmampuan berkonsentrasi, hilangnya memori, kacau, penurunan tingkat kesadaran (ozotemia) ketidakseimbangan elektrolit (asam/ basa).
6) Nyeri/ kenyamanan
Subjektif: Nyeri tubuh, sakit kepala.
Objektif: Perilaku hati- hati/ distraksi, gelisah.
7) Pernafasan
Subjektif: Nafas pendek.
Objektif: Takipnea, dispnea, peningkatan frekuensi, kedalaman (pernafasan kusmaul), nafas amonia, batuk produktif dengan sputum kental merah muda (edema paru).

8) Keamanan
Subjektif: Adanya reaksi transfusi.
Objektif: – Demam (sepsis, dehidrasi).
– Petekie, area kulit ekimosis.
– Pruritus, kulit kering.
– Fraktur tulang, deposit kalsium, jaringan lunak sendi.
– Keterbatasan gerak sendi.
9) Seksualitas
Objektif: Penurunan libido, amenorea, infertilitas.
10) Interaksi sosial
Objektif: Kesulitan menentukan kondisi, contoh tidak mampu bekerja, mempertahankan fungsi peran biasanya dalam keluarga.
11) Penyuluhan pembelajaran
Objektif: – Riwayat DM keluarga, nefritis herediter kalkus urinarius.
– Riwayat terpajan toksin: obat, racun lingkungan.
– Penggunaan antibiotik nefrotoksik saat ini/ berulang.
2. Diagnosa Keperawatan
Menurut Doenges (2000), diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan gagal ginjal kronik adalah:
a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan beban jantung yang meningkat
b. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan edema sekunder: volume cairan tidak seimbang oleh karena retensi Na dan H2O, penurunan GFR
c. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah
d. Perubahan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi sekunder: kompensasi melalui alkalosis respiratorik
e. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pruritis
f. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan oksigenasi jaringan yang tidak adekuat, keletihan
g. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan tindakan medis (hemodialisa) berhubungan dengan salah interpretasi informasi
3. Intervensi
Intervensi keperawatan merupakan suatu rencana keperawatan yang dirancang untuk mengatasi masalah yang didapat.
a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan beban jantung yang meningkat
Tujuan: Penurunan curah jantung tidak terjadi dengan kriteria hasil :
mempertahankan curah jantung dengan bukti tekanan darah dan frekuensi jantung dalam batas normal, nadi perifer kuat dan sama dengan waktu pengisian kapiler

Intervensi:
1) Auskultasi bunyi jantung dan paru
2) Kaji adanya hipertensi
3) Selidiki keluhan nyeri dada, perhatikan lokasi, rediasi, beratnya (skala 0-10)
4) Kaji tingkat aktivitas, respon terhadap aktivitas
b. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan edema sekunder: volume cairan tidak seimbang oleh karena retensi Na dan H2O, penurunan GFR
Tujuan: Mempertahankan berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan dengan kriteria hasil: tidak ada edema, keseimbangan antara input dan output
Intervensi:
1) Kaji status cairan dengan menimbang BB perhari, keseimbangan masukan dan haluaran, turgor kulit tanda- tanda vital
2) Batasi masukan cairan
3) Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang pembatasan cairan
4) Anjurkan pasien/ ajari pasien untuk mencatat penggunaan cairan terutama pemasukan dan haluaran
c. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah
Tujuan: Mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat dengan kriteria hasil: menunjukan berat badan stabil
Intervensi:
1) Awasi konsumsi makanan/ cairan
2) Perhatikan adanya mual dan muntah
3) Berikan makanan sedikit tapi sering
4) Tingkatkan kunjungan oleh orang terdekat selama makan
5) Berikan perawatan mulut sering
d. Perubahan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi sekunder: kompensasi melalui alkalosis respiratorik
Tujuan: Pola nafas kembali normal/ stabil
Intervensi:
1) Auskultasi bunyi nafas, catat adanya crakles
2) Ajarkan pasien batuk efektif dan nafas dalam
3) Atur posisi senyaman mungkin
4) Batasi untuk beraktivitas.
e. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pruritis
Tujuan: Integritas kulit dapat terjaga dengan kriteria hasil : Mempertahankan kulit utuh dan Menunjukan perilaku/ teknik untuk mencegah kerusakan kulit
Intervensi:
1) Inspeksi kulit terhadap perubahan warna, turgor, vaskuler, perhatikan adanya kemerahan.
2) Pantau masukan cairan dan hidrasi kulit dan membran mukosa
3) Inspeksi area tergantung terhadap oedem
4) Ubah posisi sesering mungkin
5) Berikan perawatan kulit
6) Pertahankan linen kering
7) Anjurkan pasien menggunakan kompres lembab dan dingin untuk memberikan tekanan pada area pruritis
8) Anjurkan memakai pakaian katun longgar
f. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan oksigenasi jaringan yang tidak adekuat, keletihan
Tujuan: Pasien dapat meningkatkan aktivitas yang dapat ditoleransi
Intervensi:
1) Pantau pasien untuk melakukan aktivitas
2) Kaji faktor yang menyebabkan keletihan
3) Anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat
4) Pertahankan status nutrisi yang adekuat
g. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan tindakan medis (hemodialisa) berhubungan dengan salah interpretasi informasi.
Intervensi:
1) Kaji ulang penyakit/ prognosis dan kemungkinan yang akan dialami.
2) Beri pendidikan kesehatan mengenai pengertian, penyebab, tanda dan gejala CKD serta penatalaksanaannya (tindakan hemodialisa ).
3) Libatkan keluarga dalam memberikan tindakan.
4) Anjurkan keluarga untuk memberikan support sistem.
5) Evaluasi pasien dan keluarga setelah diberikan penkes.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s